Senin, 28 Desember 2009

uas filsafat *sigh*

KIDUL vs NYI RORO KIDUL

Tanggal akses : 13 Juli 2009

Di post oleh : Gantharwa .

(http://gantharwa.wordpress.com/2007/01/13/kanjeng-ratu-kidul-vs-nyi-roro-kidul/)

Pada tahun 1999 bulan Agustus di semua Koran nasional yang bertempatan di Jakarta memuat mengenai pemusnahan benda-benda pusaka dari Pengusaha Laut Selatan dan pengusiran terhadap Penguasa Laut Selatan oleh sejumlah pakar yang mengaku memiliki kemampuan dan dan ahli dalam metafisik serta sejumlah pakar ulama serta rohaniwan. Diantar mereka menyebut Penguasa Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul.

Saya kemudian lalu bertemu dengan seorang Kadang yang telah menuliskan Surat kepada Koran tersebut untuk dibuat di Suara Pembaca, katanya tujuannya adalah untuk menetralisir opini selama ini berkembang: kira-kira ini kutipan isinya yang masih saya simpan;

Salam damai dan sejahtera. Saya sangat berterima kasih kalau surat ini dapat diterbitkan. Saya ini menjelaskan atau menjernihkan soal siapa Penguasa Laut Selatan. Selama ini masyarakat telah keliru, karena menganggap Peguasa Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul dan karena perbuatannya maka Penguasa Laut Selatan menjadi sangat menakutkan bagi masyarakat tertentu.

Melalui surat ini ingin saya menegaskan bahwa Penguasa Laut selatan, ”sekali-kali” bukan Nyi Roro Kidul yang selama ini di kenal oleh masyarakat, tapi melainkan ”Kanjeng Raru Kidul”. Dialah yang sebenarnya Penguasa Laut Selatan yang selama ini dimaksud, bukanlah Nyi Roro Kidul. Status dari Kanjeng Ratu Kidul adalah merupakan Raja/Penguasa di laut selatan, sedangkan Nyi Roro idul adalah Patih Nya.

Dan selama ini bencana dan mara bahaya adalah ulah dari kenakalan Nyi roro Kidul, tapi selama ini dianggap Penguasa Laut Selatan yang bikin ulah (seolah-olah seorang pembantu menyalahgunakan nama tuannya)-(atau anak bikin ulah bapak yang namanya tercoreng. Red). Maka Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul adalah dua pribadi yang berbeda. Jadi tanpa mengurangi rasa hormat kepada para guru, dukun, paranormal, atau apapun sebutannya, yang mengatakan Penguasa Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul, agar direnungkan kembali karena suatu kekeliruan (saya menjamin).

Demikian informasi yang bisa saya sampaikan, suatu saat saya akan menjelaskan mengapa Kanjeng Ratu Kidul seolah-olah membiarkan patihnya berbuat demikian dan asal usul serta misi dari Penguasa Laut Selatan.

(http://gantharwa.wordpress.com/2007/01/13/kanjeng-ratu-kidul-vs-nyi-roro-kidul/)

Masyarakat Indonesia tidak pernah lepas dari hal-hal yang berbau klenik. Nyi Roro Kidul misalnya merupakan mitos populer yang diyakini oleh masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat pesisir selatan Laut Jawa pada khususnya. Lantas apakah benar Pesisir Selatan Laut Jawa memiliki penguasa yang bernama Kanjeng Ratu Kidul? Masyarakat Jawa memang meyakini keberadaan Kanjeng Ratu Kidul, namun apakah keberadaannya benar-benar ada secara ilmiah yang didukung dengan bukti-bukti, sampai kini belum terbukti. Lantas apa itu keyakinan?

Keyakinan merupakan suatu hal yang kita percayai keberadaannya tanpa kita perlu membuktikan benar atau tidaknya. Dalam hal ini, masyarakat Jawa meyakini keberadaan Nyi Roro Kidul tanpa membuktikan secara ilmiah dan nyata. Cukup dengan mitos yang berkembang turun menurun dan cerita-cerita subyektif dari mulut ke mulut. Hal ini berbeda dengan apa yang disebut pengetahuan. Pengetahuan merupakan sesuatu yang benar-benar nyata dan terjadi dan memiliki pembuktian sebagai penguatnya. Contohnya, bumi memiliki gravitasi, buktinya semua benda yang di dilambungkan pasti akan jatuh ke arah bawah. Hal ini merupakan pengetahuan dimana terdapat pembuktian.

Keyakinan

Keyakinan adalah sikap mental seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau terjadi dimana objek yang disadari itu tidak perlu harus ada sebagaimana adanya (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal 30). Kita tidak peduli apakah sesuatu yang kita yakini benar atau keliru. Karena kita menyadari objek itu ada sehingga menimbulkan kepercayaan yang kuat yang melahirkan kepercayaan. Dalam contoh di atas, masyarakat Jawa menyadari keberadaan Nyi Roro Kidul. Mereka menyadarinya karena mendengar cerita-cerita mengenai keberadaanya, misalnya cerita mengenai orang yang memakai baju hijau akan tenggelam dibawa nyi roro kidul. Kenyataan yang mereka lihat memang orang yang tenggelam kebetulan sedang memakai baju hijau. Hal ini mengarahkan mereka untuk percaya akan nyi roro kidul dan kepercayaan yang kuat menimbulkan keyakinan. Namun apa yang kita yakini bisa saja keliru. Karena objek yang disadari ada, tidak perlu ada sebagaimana adanya (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal:30). Keyakinan tidaklah selalu sama pada setiap individu dan tidak bisa dipaksakan untuk sama. Keyakinan akan adanya nyi roro kidul yang dianut masyarakat pesisir selatan Laut Jawa tentu tidak sama dan bisa dipaksakan pada masyarakat pesisir selatan di Sumatera misalnya. Masyarakat di Sumatera belum tentu mengalami hal yang sama sehingga mereka menjadi percaya akan hal yang sama pula.

Pengetahuan

Pengetahuan adalah sikap mental seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau terjadi dimana objek yang disadari itu memang ada sebagaimana adanya dan terjadi sebagaimana yang di-klaim (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal 31). Pengetahuan tidak bisa salah atau keliru karena bila pengetahuan terbukti salah atau keliru tidak bisa dianggap lagi sebagai pengetahuan, apa yang dianggap sebagai pengetahuan tersebut berubah menjadi keyakinan (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal 30). Untuk itu unsur terpenting dari pengetahuan adalah adanya kebenaran, kebenaran perlu bukti sebagai penguatnya.Misalnya seorang ilmuwan mengadakan uji coba terhadap binatang percobaan, semata-mata untuk melihat dan menemukan bukti konkrit bahwa ramuan yang diciptakannya benar-benar bereaksi.

Keyakinan bisa saja keliru, namun pengetahuan tidak bisa keliru. Karena apabila keyakinan salah tetap sah saja dianut sebagai keyakinan. Sedangkan pengetahuan apabila terbukti salah, tidak bisa dianggap lagi sebagai pengetahuan dan berubah status menjadi sekadar keyakinan belaka (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal 31).

Apa yang dianggap sebagai pengetahuan lalu dirumuskan sebagai proposisi. Maka, pengetahuan yang diungkapkan dalam proposisi itu hanya sah dianggap sebagai pengetahuan kalau proposisi itu memang dalam kenyataannya benar sesuai yang diungkapkan. (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal 31).

Macam – macam pengetahuan menurut Polanya

Biasanya dibedakan antara tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan/tahu bahwa, pengetahuan/tahu bagaimana, dan pengetahuan/tahu tentang. Namun dapat ditambahkan lagi satu lagi jenis pengetahuan yang serumpun, yaitu pengetahuan/tahu mengapa.

a. Tahu bahwa

adalah pengetahuan tentang informasi tertentu. Disebut juga pengetahuan teoritis. Pengetahuan ini berkaitan dengan keberhasilan dalam mengumpulkan informasi. Apabila seseorang memiliki pengetahuan jenis ini berarti ia memiliki informasi lebih dari yang orang lain punyai.

b. Tahu bagaimana

Pengetahuan yang menyangkut bagaimana melakukan sesuatu. Berkaitan dengan ketrampilan melakukan sesuatu. Bersifat praktis. Lebih diutamakan dibanding pengetahuan teoritis

c. Antara “tahu bagaimana” dan “tahu akan”

Dengan mengetahui secara pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu bagaimana bertindak secara tepat. Seperti contoh keahlian seorang bidan dalam menangani pasien yang hendak melahirkan terkait dengan pengetahuan yang diperoleh dan pengalaman yang sudah didapatnya.

d. Antara “tahu mengapa” dan ketiga jenis pengetahuan lainnya

Untuk mencapai pengetahuan yang lebih mendalam, kita tidak hanya berhenti pada “tahu bagaimana”. Dengan kata lain, kita membutuhkan “pengetahuan mengapa” supaya pengetahuan bahwa sesuatu itu terjadi sebagaimana adanya benar-benar akurat. Untuk bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui mengapa sesuatu terjadi.

Untuk bisa mempunyai “pengetahuan mengapa” sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai pengalaman pribadi, kita perlu “tahu akan”, yaitu tahu secara mendalam tentang hal tersebut.

(Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001.hal 33-36)

Hubungan Pengetahuan-Keyakinan

Persamaan antara Pengetahuan dan Keyakinan merupakan sikap mental seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau terjadi (Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001, hal 30).

Perbedaan antara pengetahuan dan Keyakinan. Dalam keyakinan perlu diingat bahwa hal yang dipercayai keberadaanya, tidak perlu benar-benar nyata. Keyakinan akan Tuhan misalnya, tentunya kita tidak pernah melihat wujud dan fisiknya secara real, tetapi kita percaya dengan merasakan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya sehingga kita meyakini-Nya. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang disebut pengetahuan. Karena pengetahuan hal-hal yang dipercayai keberadaannya benar-benar terjadi dan nyata sebagaimana yang terjadi dan dperkuat dengan bukti-bukti

Terlepas dari itu semua, keyakinan dan pengetahuan memiliki hubungan yang erat. Dimana suatu pengetahuan dapat terdegradasi menjadi keyakinan belaka jika pengetahuan tidak sesuai dengan apa yang terjadi atau dengan kata lain tidak memiliki unsur-unsur kebenaran.

Mengapa keyakinan harus dibedakan dengan pengetahuan?

Tentunya seperti yang telah dijabarkan di atas bahwa keyakinan dan pengetahuan adalah sesuatu yang memang berbeda. Perbedaannya terletak pada unsure kebenaran yang dimiliki. Seseorang tidak perlu menyelidiki benar atau tidaknya sesuatu, karena benar atau kelirunya suatu objek tetap dapat diyakini. Sedangkan pengetahuan, sesuatu yang tidak dapat memenuhi unsur kebenaran, secara mutlak tidak dapat dikatakan sebagai pengetahuan.

Selain itu keduanya perlu dibedakan agar kita tidak mencampur adukan antara keyakinan dan pengetahuan. Jika kita mencampur adukan keduanya maka yang terjadi kemudian, makna dari sebuah kebenaran akan menjadi bias dan samar. Sehingga kita tidak bisa membedakan mana hal yang benar dan mana yang salah. Dengan ilustrasi, seorang hakim yang dengan keyakinannya, percaya keterangan saksi yang melihat terdakwa berada dilokasi, namun kenyataannya sidik jari terdakwa tidak ditemukan di senjata yang digunakan. Apa yang terjadi bila hakim di sebuah pengadilan memvonis seorang terdakwa hanya karena percaya dan yakin bahwa sang terdakwa melakukan pelanggaran, tanpa terbukti melakukannya? Oleh karena itu yang kita perlukan tidak hanya yakin terhadap sesuatu hal namun juga tahu kebenaran dari kenyataan yang terjadi, dengan melihat fakta dan bukti yang menguatkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius

KANJENG RATU KIDUL vs NYI RORO KIDUL, Tanggal akses : 13 Juli 2009,

(http://gantharwa.wordpress.com/2007/01/13/kanjeng-ratu-kidul-vs-nyi-roro-kidul/)

Skeptisisme Sebagai Salah Satu Bentuk Keyakinan, Tanggal akses : 13 Juli 2009,

http://davidsanjana.wordpress.com/2008/07/21/skeptisisme-sebagai-salah-satu-bentuk-keyakinan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar